JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Transformasi digital dalam pengembangan kompetensi aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) terbukti mampu mengefisienkan anggaran dalam skala besar. Sepanjang 2025, Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (Pusbangkom SDM) Kemenag mencatat nilai efisiensi mencapai Rp8,6 triliun melalui pemanfaatan platform pembelajaran digital Massive Open Online Course (MOOC) Pintar.
Kepala Pusbangkom SDM Kemenag Mastuki mengatakan, angka tersebut merupakan nilai manfaat yang diperoleh apabila program pengembangan kompetensi dilaksanakan secara daring dibandingkan dengan pola tatap muka konvensional. “Pengembangan kompetensi melalui MOOC Pintar ini sangat efisien, nilainya mencapai Rp8,6 triliun,” ujar Mastuki di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Menurut Mastuki, digitalisasi pelatihan telah mengubah secara signifikan pola pengembangan kompetensi yang selama ini identik dengan biaya tinggi. Dalam skema konvensional, pelatihan membutuhkan anggaran besar untuk akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga penyediaan sarana fisik. Sebaliknya, melalui platform digital, proses pembelajaran dapat menjangkau peserta secara luas, berlangsung cepat, dan tetap efektif tanpa mengorbankan kualitas.
Sepanjang 2025, jumlah peserta pengembangan kompetensi tercatat mencapai 1.532.242 orang. Jika seluruh peserta tersebut dilatih dengan pola tatap muka, dibutuhkan sedikitnya 51.074 kelas. Dengan asumsi biaya rata-rata Rp170 juta per kelas, total anggaran yang harus disediakan mencapai Rp8,682 triliun.
“Pengembangan kompetensi dengan pola konvensional berbiaya sangat mahal dan membutuhkan upaya yang sangat besar. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, semua bisa dilakukan dengan biaya yang jauh lebih murah,” kata Mastuki.
Selain efisiensi anggaran, digitalisasi pelatihan juga dinilai berdampak positif terhadap kelestarian lingkungan. Mastuki menjelaskan, setiap kelas tatap muka rata-rata membutuhkan tiga rim kertas. Dengan total 51.074 kelas, kebutuhan kertas mencapai 153.222 rim. Jika satu batang pohon menghasilkan sekitar 16 rim kertas, maka pelatihan konvensional berpotensi menghabiskan 9.576 batang pohon.
“Dengan konsep paperless, pohon sebanyak itu tidak perlu ditebang,” ujarnya.
Mastuki menambahkan, capaian tersebut sejalan dengan komitmen Kemenag dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan penguatan ekoteologi, yakni kesadaran beragama yang berpihak pada pelestarian lingkungan. Digitalisasi pengembangan kompetensi, menurut dia, bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral menjaga keberlanjutan alam. (ihd)













