JENDELANUSANTARA.COM, Cuaca panas dan kemarau ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Indonesia meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius karena anak memiliki kemampuan yang lebih terbatas dalam beradaptasi terhadap suhu lingkungan yang tinggi dibandingkan orang dewasa.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak kesehatan selama musim kemarau. Melalui unggahan Instagram resmi @kemenkes_ri (8/6/2026) lalu, Kemenkes menyebutkan dehidrasi ekstrem dan heat stroke sebagai beberapa gangguan kesehatan yang berpotensi meningkat selama cuaca panas berkepanjangan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (PPDS KKLP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Siti Rizki Fauziah, M.Med.Sc., Sp.KKLP., menjelaskan bahwa fenomena cuaca panas yang terjadi belakangan ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan anak. Hal tersebut disebabkan karena sistem pengaturan suhu tubuh anak masih dalam tahap perkembangan sehingga belum bekerja seefektif orang dewasa.
“Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan sehingga sistem regulasi tubuh mereka belum sesempurna orang dewasa. Karena itu mereka jauh lebih rentan terhadap perubahan lingkungan, termasuk cuaca ekstrem. Kondisi panas yang berlangsung terus-menerus dapat memberikan beban yang lebih besar bagi tubuh anak dibandingkan orang dewasa,” jelasnya, Senin (15/10).
Menurut dr. Siti, kerentanan anak terhadap heat stroke dipengaruhi oleh sejumlah faktor fisiologis. Salah satunya adalah luas permukaan tubuh anak yang relatif lebih besar dibandingkan berat badannya. Kondisi tersebut membuat tubuh anak lebih cepat menyerap panas dari lingkungan sekitar ketika suhu udara meningkat.
Selain itu, anak juga menghasilkan panas tubuh lebih tinggi saat beraktivitas. Ketika bermain, berlari, atau melakukan aktivitas fisik lainnya, produksi panas metabolik pada anak lebih besar dibandingkan orang dewasa. Sementara itu, mekanisme pendinginan tubuh melalui penguapan keringat belum bekerja secara optimal sehingga pelepasan panas menjadi kurang efisien.
“Tubuh anak memiliki mekanisme yang berbeda dalam merespons paparan panas. Mereka menyerap panas lebih cepat, sementara produksi panas tubuh saat bergerak juga lebih tinggi. Di sisi lain, sistem kelenjar keringat mereka belum bekerja seefektif orang dewasa sehingga proses pembuangan panas menjadi lebih sulit,” ungkap dr. Siti.
Tidak hanya faktor fisik, perilaku anak juga turut meningkatkan risiko heat stroke. Anak-anak sering kali terlalu fokus bermain sehingga tidak menyadari tanda-tanda awal kelelahan akibat panas. Ia menyebutkan seorang anak juga belum mampu mengenali kondisi tubuhnya sendiri, termasuk ketika mulai mengalami haus, pusing, atau lemas.
“Heat stroke harus dipandang sebagai kondisi kegawatdaruratan medis yang serius. Ini bukan hanya rasa panas biasa, tetapi kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada otak, jantung, ginjal, hingga organ-organ vital lainnya,” pungkasnya.
Sebelum mengalami heat stroke, anak biasanya menunjukkan gejala awal yang dikenal sebagai heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. Gejalanya meliputi keringat berlebihan, pusing, sakit kepala, tubuh lemas, mual, muntah, dan kram otot. Apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani, gejala dapat berkembang menjadi heat stroke yang ditandai dengan perubahan perilaku dan kesadaran, seperti bingung, sulit diajak berkomunikasi, mengantuk berlebihan, hingga pingsan.
“Semua anak berisiko, tetapi bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentan. Karena itu, kewaspadaan orang tua menjadi sangat penting agar tanda-tanda awal gangguan akibat panas dapat dikenali sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya,” tegas dr. Siti.
Sumber : Humas Umy














