JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Hubungan hangat antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, Sabtu (1/6/2025), dipandang sebagai cerminan sikap negarawan dua tokoh bangsa tersebut. Keakraban itu menjadi simbol penting dalam membangun stabilitas politik nasional di tengah dinamika transisi kekuasaan.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDI-P) Said Abdullah mengatakan, Prabowo dan Megawati telah menjalin hubungan baik sejak lama. Relasi
keduanya tak semata dalam konteks politik, melainkan juga dalam hal strategis menyangkut ideologi negara, Pancasila.
”Presiden Prabowo sudah lama menjalin persahabatan dengan Ibu Megawati. Ini bukan hal baru, tetapi menjadi relevan karena ditampilkan dalam momentum kenegaraan,” ujar Said dalam keterangan tertulis, Senin (2/6/2025), di Jakarta.
Sebelumnya, Presiden Prabowo sempat bersilaturahmi ke kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, pada 7 April 2025 malam. Said menilai, silaturahmi tersebut mencerminkan sikap hormat Prabowo terhadap para pemimpin bangsa, termasuk sejumlah tokoh nasional yang sempat ia kunjungi.
Langkah itu dinilai dapat memperkuat fondasi kerja sama antar-elite dalam masa pemerintahan mendatang.
Dalam pidato pada Upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Presiden Prabowo menyebut nama Megawati lebih dahulu dibandingkan tokoh-tokoh lainnya. Ia juga menyampaikan ajakan untuk memperkuat persatuan bangsa dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
”Itu menunjukkan bahwa Presiden Prabowo memberi tempat terhormat kepada Ibu Mega, bukan hanya sebagai Presiden ke-5 RI, tetapi juga Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP),” ujar Said.
Ia menilai, relasi Prabowo dan Megawati merupakan cerminan kesinambungan nilai-nilai kebangsaan dari generasi ke generasi. Ia mencontohkan, pada masa lalu, perbedaan pandangan politik antar-tokoh seperti Buya Hamka dan Presiden Soekarno tetap diikat oleh rasa hormat dan kebersamaan sebagai anak bangsa.
Said menegaskan, keakraban dua tokoh tersebut penting untuk dimaknai lebih dalam. Menurut dia, ikatan kebatinan antar-tokoh nasionalis seperti Prabowo dan Megawati bersumber dari kesadaran sejarah dan kebutuhan akan arah masa depan Indonesia.
”Kedekatan ini hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah melampaui sekat-sekat politik pragmatis. Mereka yang mengabdi bukan untuk kekuasaan semata, tetapi demi kelangsungan bangsa,” katanya.
Dalam momen sebelum upacara, sejumlah potret keakraban antara Presiden Prabowo dan Megawati juga terlihat di ruang tunggu Gedung Pancasila. Dalam salah satu percakapan hangat, Prabowo berkelakar mengenai penampilan Megawati yang disebutnya tampak lebih ramping.
”Ibu agak kurus, Bu. Waduh, luar biasa. Ibu kurus. Diet Ibu berhasil,” ucap Prabowo. Megawati pun tersenyum dan menimpali, ”Oh iya, diet kurus itu.”
Megawati hadir dalam upacara tersebut bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ketiganya berdiri dalam satu barisan saat upacara dimulai. Momen ini menjadi sorotan di tengah harapan publik akan rekonsiliasi dan kolaborasi antara pemimpin nasional demi kepentingan bangsa ke depan. (ihd)













