JENDELANUSANTARA.COM, Jogja – Tren “diet plastik” mulai mencuri perhatian sebagai strategi baru rumah tangga dalam menekan pengeluaran.
Kenaikan harga plastik sekali pakai di sektor ritel tak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memicu perubahan perilaku konsumsi masyarakat.
“Sekarang plastik tidak lagi dianggap gratis, ada biaya yang mulai dirasakan langsung oleh konsumen,” ujar Dosen Kewirausahaan Fakultas Ekonomi UWM Yogyakarta, Niken Permata Sari.
Menurut Niken, kondisi ini melahirkan konsep baru dalam perilaku belanja, yakni “biaya kenyamanan” atau cost of convenience.
Ia menilai, tambahan biaya tersebut secara langsung memengaruhi keputusan konsumen saat bertransaksi.
“Ketika ada biaya tambahan, masyarakat jadi berpikir ulang, apakah benar-benar perlu atau tidak,” katanya.
Fenomena ini dinilai sebagai bentuk disinsentif ekonomi yang efektif. Kenaikan harga plastik mendorong masyarakat beralih ke alternatif yang lebih hemat dan berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar tren, tapi respons rasional terhadap tekanan ekonomi sehari-hari,” jelasnya.
Dalam praktiknya, berbagai strategi mulai diterapkan, mulai dari membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum isi ulang, hingga membeli produk dalam kemasan besar.
“Investasi di awal memang terasa, tapi dalam jangka panjang jauh lebih hemat dibandingkan terus membeli plastik sekali pakai,” ungkap Niken.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa diet plastik mencerminkan perubahan pola pikir menuju konsumsi berkelanjutan.
“Diet plastik bukan hanya soal lingkungan, tapi strategi ekonomi rumah tangga yang cerdas. Perubahan kecil dalam kebiasaan bisa berdampak besar dalam jangka panjang,” pungkasnya.(waw)














