JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis yang digagas Badan Gizi Nasional (BGN) tercoreng. Sudah dua bulan, dapur di Kalibata, Jakarta Selatan, membagikan 65.025 porsi makanan kepada anak-anak sekolah. Namun hingga bulan ketiga, April ini, pemilik dapur belum menerima pembayaran sepeser pun dari Yayasan MBN. Skema kemitraan pun dinilai menyimpan celah yang rawan disalahgunakan.
Pemilik dapur, Ira Mesra Destiawati, menggandeng kuasa hukum Danna Harly dan membawa kasus ini ke publik. “Klien kami dizalimi. Tak ada dana yang ditransfer,” ujar Harly dalam konferensi pers, Rabu (16/4/2025).
Padahal, dana tahap pertama dari BGN senilai Rp386,5 juta disebut telah dikirim ke Yayasan MBN. Namun pembayaran ke Ira tak kunjung dilakukan. Yayasan justru berdalih Ira masih memiliki utang Rp45 juta. Kuasa hukum Ira menyebut nilai kerugian mendekati Rp1 miliar.
Pola yang Rentan
Kerja sama antara pemilik dapur, Yayasan MBN, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilakukan dalam kerangka uji coba program MBG. Dalam kontrak, tarif satu porsi makanan disepakati Rp15.000. Namun dalam praktik, Ira hanya dibayar Rp12.500 per porsi, setelah pemotongan sepihak oleh pihak yayasan.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, menilai pola seperti ini rawan diselewengkan. “Ini bukan skema final dari BGN, tapi uji coba. Maka pengawasan harus diperketat,” kata Yahya saat dikonfirmasi, Kamis (17/4/2025).
Yahya menyarankan agar BGN kembali ke desain awal, yakni membangun dapur sendiri dan mengoperasikannya secara langsung. Ia juga mendorong percepatan rekrutmen besar-besaran pegawai SPPG agar pengawasan di lapangan tak lagi bergantung pada pihak ketiga.
Jalan Damai
Setelah mencuat ke publik, BGN memediasi kedua pihak. Menurut Harly, Yayasan MBN mengakui adanya kekeliruan teknis dan sepakat mencairkan pembayaran. “Sudah clear, tinggal pencairan dari yayasan,” ujarnya.
Dapur Kalibata bersiap kembali beroperasi. Namun kasus ini memberi pelajaran penting: distribusi makanan bergizi gratis tidak bisa diserahkan begitu saja ke pihak luar tanpa regulasi ketat. Celah pengawasan bisa membuat dapur berhenti mengepul, sebelum satu sendok nasi pun sampai ke piring anak-anak. (ihd)














