BSKDN Kemendagri Segera Uji Coba Penilaian Kota Bersih di Daerah

Rabu, 31 Januari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM – Jakarta, Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akan segera melakukan uji coba penerapan penilaian kota bersih di daerah. Upaya tersebut dilakukan untuk mengetahui kesiapan daerah dalam penerapan penilaian kota bersih, juga untuk mengetahui sejauh mana daerah memahami 10 variabel dan 43 indikator yang ada dalam Indeks Penilaian Kota Bersih.

Demikian disampaikan Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Pusat Strategi Kebijakan (Pustrajakan) Pembangunan, Keuangan Daerah, dan Desa (PKDD) BSKDN Wahyu Hidayat saat memimpin Rapat Penyusunan Idea Concept Paper (ICP) dan Term of Reference (ToR) Kegiatan Uji Coba Penerapan Penilaian Kabupaten/Kota Bersih di Ruang Rapat Pustrajakan PKDD Lantai 4 Kantor BSKDN, Jakarta, Rabu (31/1/2024).

“Kegiatan penerapan penilaian kota bersih harus berdasarkan rumusan masalah yang tepat, kami mohon masukan dari Bapak/Ibu sekalian agar nantinya kegiatan tersebut berhasil dan membawa dampak yang baik bagi masyarakat,” ungkap Wahyu.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Indonesian Environmental Scientists Association (IESA) Lina Tri Mugi Astuti mengatakan uji coba penerapan penilaian kota bersih juga dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kecocokan dan kelayakan instrumen penilaian kota bersih yang sudah disusun. “Persiapan daerah (kesiapan data) penerapan penilaian kabupaten/kota bersih berdasarkan karakteristik wilayah dapat diketahui setelah dilaksanakan uji coba sehingga dapat diketahui kekurangan dari masing-masing variabel dan indikator,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, penyuluh lingkungan hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Abdul Karim mengatakan, uji coba penilaian kota bersih akan menghasilkan variabel dan indikator final yang implementatif sehingga dapat diterapkan setelah dilakukan pendalaman dan perbandingan antarwilayah.

Dia melanjutkan, berdasarkan indeks yang ada, pihaknya telah membagi daerah dalam 6 regional yaitu regional Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku serta Papua. Adapun jika dilihat dari sisi lingkungan, hasil antara wilayah di Indonesia bagian timur dengan wilayah Indonesia bagian barat sangat berbeda. “Dari proporsi justru daerah timur harusnya lebih bisa melakukan pengelolaan yang lebih baik, untuk itu perlu dilakukan uji coba 2 atau 3 daerah Indonesia timur,” pungkasnya.(Wan)

Sumber: Puspen Kemendagri

Berita Terkait

Tito: Perbedaan Pandangan Soal Keselamatan Jadi Pemicu Polemik Jembatan Enang-Enang
Pemda Diminta Maksimalkan Upaya Pengendalian Inflasi agar Tetap Terkendali
Bantuan Ambulans Korpri Dukung Layanan Kesehatan Penyintas Bencana di Sumatera
Mendagri Minta Kepala Daerah Libatkan BPS dalam Pemanfaatan DTSEN Versi 3
Nuansa Budaya Warnai Syukuran HUT ke-46 Dekranas, Tri Tito Kenakan Baju Bodo
Rindekraf 2026–2045 Jadikan Ekraf Pilar Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Pelecehan terhadap Hukum, Penegak Hukum: Ketidak Pedulian pada Kemanusiaan, Mengganggu Keteraturan Sosial dan Merusak Peradaban
Dekranas Resmi Tutup Perayaan HUT ke-46, UMKM Kriya Didorong Mendunia

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 16:09 WIB

Tito: Perbedaan Pandangan Soal Keselamatan Jadi Pemicu Polemik Jembatan Enang-Enang

Senin, 13 Juli 2026 - 15:25 WIB

Pemda Diminta Maksimalkan Upaya Pengendalian Inflasi agar Tetap Terkendali

Senin, 13 Juli 2026 - 15:20 WIB

Bantuan Ambulans Korpri Dukung Layanan Kesehatan Penyintas Bencana di Sumatera

Senin, 13 Juli 2026 - 13:30 WIB

Nuansa Budaya Warnai Syukuran HUT ke-46 Dekranas, Tri Tito Kenakan Baju Bodo

Senin, 13 Juli 2026 - 12:28 WIB

Rindekraf 2026–2045 Jadikan Ekraf Pilar Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Berita Terbaru