JENDELANUSANTARA.COM, Pekalongan — Diskusi dan bedah buku “Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan” yang digelar oleh Kulturpedia menghadirkan pembahasan tentang perjalanan panjang batik legendaris sekaligus tantangan yang dihadapi ke depan.
Acara yang berlangsung di Saji Space, Minggu 29 Maret 2029, di Kedungwuni Pekalongan, ini menghadirkan penulis buku Nanang Rendi Ahmad sebagai pemateri, bersama Widianti Widjaya dari keluarga Oey Soe Tjoen, Dirhamzah sebagai pegiat sejarah, serta Andika Nugraha sebagai panelis dari kalangan muda.
Dalam pemaparannya, Nanang Rendi Ahmad menjelaskan bahwa batik Oey Soe Tjoen merupakan salah satu ikon batik tulis Pekalongan yang mampu bertahan lebih dari satu abad. Ketahanan tersebut, menurutnya, tidak lepas dari konsistensi dalam menjaga kualitas.
Kualitas Jadi Penentu
Komitmen terhadap kualitas menjadi poin utama dalam diskusi. Widianti Widjaya menegaskan bahwa standar yang telah dijaga sejak lama tidak boleh diturunkan.
Ia bahkan menyampaikan bahwa keberlanjutan usaha tidak boleh mengorbankan kualitas.
“Kalau kualitasnya tidak bisa dijaga, lebih baik tidak dilanjutkan,” ujarnya.
Menurutnya, batik Oey Soe Tjoen dikenal sebagai batik premium yang menjaga detail dan proses secara ketat. Hal ini juga ditegaskan oleh
Dirhamzah yang menyebut nilai batik tersebut setara dengan produk kelas atas, bahkan jika dikonversi bisa mencapai harga satu unit motor Honda PCX.
Regenerasi Jadi Tantangan
Di sisi lain, persoalan regenerasi menjadi isu yang mengemuka. Hingga kini, belum ada generasi keempat yang siap melanjutkan usaha tersebut.
Widianti mengakui bahwa dirinya tidak ingin memaksakan anak-anaknya untuk meneruskan usaha keluarga. Ia berharap pemahaman terhadap nilai dan filosofi batik dapat tumbuh secara alami.
Kondisi ini mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam industri batik tulis, di mana minat generasi muda masih menjadi persoalan.
Catatan dari Peserta
Dalam diskusi, peserta juga memberikan pandangan terkait masa depan batik. Salah satunya disampaikan oleh Yoga Rifai Hamzah, yang menilai bahwa pembahasan batik selama ini masih banyak berfokus pada aspek ketahanan.
Menurutnya, perlu ada perhatian lebih pada bagaimana batik dapat tetap hidup di masa depan.
“Kita sering bicara bagaimana batik bertahan, tapi belum cukup serius memikirkan bagaimana batik bisa tetap hidup,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya melihat batik sebagai sistem pengetahuan yang mencakup motif, filosofi, dan proses, serta perlunya memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung keberlanjutan.
Selain itu, ia menekankan bahwa peran pembatik sebagai pelaku utama perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya pelestarian.
Perlu Perspektif Baru
Andika Nugraha sebagai panelis menambahkan bahwa buku ini masih dapat diperkaya dengan menghadirkan perspektif generasi keempat agar lebih relevan dengan masa depan.
Sementara itu, Dirhamzah mengusulkan perluasan sumber sejarah agar narasi semakin kuat dan komprehensif.
Menjaga agar Tetap Hidup
Diskusi ini menunjukkan bahwa tantangan batik saat ini tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap hidup dan relevan.
Pelestarian batik tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga perlu memastikan keberlanjutan bagi para pelaku di dalamnya, termasuk pembatik.
Di tengah perubahan zaman, adaptasi melalui teknologi dan pendekatan baru menjadi penting, tanpa meninggalkan nilai utama yang selama ini dijaga, yaitu kualitas.(*)














