JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menjaga dan menginternalisasi nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari setelah perayaan Idulfitri. Ia mengingatkan, keberhasilan menjalani Ramadan tidak berhenti pada intensitas ibadah selama bulan suci, melainkan tercermin dari konsistensi perilaku setelahnya.
Hal tersebut disampaikan dalam program Memaknai Lebaran Bersama Menag Nasaruddin Umar yang disiarkan Berita Satu dalam edisi khusus Idulfitri, Sabtu (21/3/2026). Menurut dia, nilai-nilai yang dibangun selama Ramadan harus terus dipelihara agar tidak memudar seiring berakhirnya bulan suci.
Ramadan, kata Nasaruddin, merupakan proses pembentukan karakter yang menekankan penguatan nilai kejujuran, keadilan, kebersamaan, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, perlu menjadi fondasi dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Yang paling penting, nilai-nilai Ramadan itu harus dipatrikan dalam diri kita. Kejujuran, keadilan, kebersamaan, toleransi, dan sifat-sifat keutamaan lainnya jangan sampai hilang setelah Ramadan,” ujarnya.
Ia menilai, konsistensi dalam menjaga nilai-nilai tersebut akan berdampak langsung pada kualitas kehidupan berbangsa. Masyarakat yang mampu mempertahankan semangat Ramadan, menurut dia, berpotensi menciptakan suasana yang lebih harmonis dan produktif.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak terjebak pada kepentingan jangka pendek yang dapat merusak kohesi sosial. Ia menilai, sikap saling menjatuhkan antarwarga justru akan melemahkan fondasi kebangsaan.
Menjawab soal “fitrah kebangsaan” yang perlu dipulihkan, Nasaruddin menekankan agar kecenderungan individualisme tidak berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sikap mementingkan diri sendiri, menurutnya, berpotensi menjadi ancaman bagi solidaritas sosial.
Dengan demikian, momentum Idulfitri semestinya menjadi titik awal untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai Ramadan, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan. (ihd)














