Gotong Royong Governance”: Solusi Demokrasi Lokal?

Kamis, 12 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Jogja – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bersama Pusat Studi Pembangunan Desa dan Kawasan Universitas Gadjah Mada (PSPK UGM) serta Forum 2045 menggelar diskusi bertajuk “Gotong Royong Governance: Menata Kembali Formasi Legitimasi dan Legalitas Demokrasi Lokal” pada Kamis (12/3/2026).

Forum yang berlangsung di ruang pertemuan PSPK UGM itu menghadirkan bupati Gunungkidul, akademisi, serta komunitas pemuda.

Diskusi tersebut membahas relevansi nilai gotong royong dalam menjawab krisis demokrasi sekaligus meningkatnya risiko sosial-ekonomi di tingkat lokal.

Ketua Forum 2045, Pinurba Parama Pratiyudha, mengatakan demokrasi pada dasarnya lahir dari semangat otonomi manusia.

Namun, ia menilai praktik pengambilan keputusan politik kerap menghadapi persoalan legitimasi dan keterhubungan dengan masyarakat.

“Karena itu forum ini diarahkan untuk merumuskan pendekatan baru yang mampu memperkuat relasi antara masyarakat dan penyelenggara jabatan struktural melalui model kolaboratif yang dirancang dalam bentuk living lab,” ujarnya.

Sosiolog sekaligus Ketua PSPK UGM, Arie Sujito, menyoroti persoalan mendasar dalam tata kelola kekuasaan yang menurutnya kerap memicu keresahan global hingga berdampak ke tingkat lokal.

Ia menyebut gotong royong dapat menjadi basis koreksi terhadap praktik demokrasi yang semakin elitis.

“Gotong royong perlu dimaknai sebagai demokrasi akar rumput. Masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, forum warga diharapkan menjadi ruang negosiasi partisipatif yang mampu menggeser pengambilan keputusan dari elit menuju ruang publik.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa semangat gotong royong memiliki relevansi nyata dalam pembangunan daerah.

Ia mengungkapkan pemerintah daerah tengah merintis konsep bupati berkantor di desa-desa bersama masyarakat.

“Dengan cara ini kami berharap tercipta komunikasi yang lebih integral antara pemimpin dan warga, sekaligus menghadirkan tata kelola pemerintahan yang partisipatif,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan tersebut dapat memperkuat hubungan pemerintah dengan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.(waw)

Berita Terkait

BPBD DIY Teliti Penyebab Tanah Gerak di Bantul, Libatkan BPPTKG dan UGM
Kebakaran di Wirobrajan Jogja, 6 Motor Inventaris Bank BPD DIY Ludes Terbakar
Jangan Konsumtif! Dosen UWM Sarankan THR Dibagi untuk Zakat, Mudik, dan Tabungan
Percepat Digitalisasi PAD, Pemkot Yogyakarta Targetkan 700 Titik Parkir Non-Tunai
Hari Jadi ke-271 DIY, Sultan HB X Ajak Masyarakat Refleksi dan Jaga Keistimewaan
Kontribusi Riset, Publikasi, dan Pengabdian Antarkan Dosen Ilmu Komunikasi UMY Raih Penghargaan
Silaturahmi PMI Jogja di Ramadan: Komitmen Kuat Kemanusiaan
Kelola Stres Jadi Energi Positif, Dosen UMY Latih Pemuda Wirokerten

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 08:49 WIB

Kebakaran di Wirobrajan Jogja, 6 Motor Inventaris Bank BPD DIY Ludes Terbakar

Jumat, 13 Maret 2026 - 08:31 WIB

Jangan Konsumtif! Dosen UWM Sarankan THR Dibagi untuk Zakat, Mudik, dan Tabungan

Kamis, 12 Maret 2026 - 21:05 WIB

Percepat Digitalisasi PAD, Pemkot Yogyakarta Targetkan 700 Titik Parkir Non-Tunai

Kamis, 12 Maret 2026 - 09:47 WIB

Gotong Royong Governance”: Solusi Demokrasi Lokal?

Kamis, 12 Maret 2026 - 08:35 WIB

Hari Jadi ke-271 DIY, Sultan HB X Ajak Masyarakat Refleksi dan Jaga Keistimewaan

Berita Terbaru