JENDELANUSANTARA COM, Jakarta -Piala FA kembali menghadirkan kisah yang menegaskan magis kompetisi tertua di dunia itu. Crystal Palace, juara bertahan Piala FA, harus angkat koper lebih awal setelah secara mengejutkan takluk 1-2 dari tim non-liga, Macclesfield FC, pada babak ketiga Piala FA 2025/26 di The Leasing.com Stadium, Sabtu (10/1/2025) waktu setempat.
Kekalahan ini terasa semakin ironis jika melihat jurang kelas di antara kedua tim. Macclesfield berada 117 tingkat di bawah Palace dalam piramida sepak bola Inggris. Musim lalu, Palace justru mencatat sejarah dengan menjuarai Piala FA usai menundukkan Manchester City di partai final. Kini, mereka mencatatkan catatan kelam sebagai juara bertahan pertama yang tersingkir oleh tim non-liga sejak 1909.
Sejak awal laga, Palace berupaya mengambil kendali permainan. Tekanan dilancarkan secara bertubi-tubi, dengan Christantus Uche menjadi motor serangan. Namun, sejumlah peluang yang tercipta gagal membuahkan hasil, termasuk tembakan Uche yang masih melambung di atas mistar gawang.
Macclesfield, yang dilatih John Rooney—adik legenda Manchester United Wayne Rooney—justru tampil lebih efektif. Dua menit sebelum turun minum, publik tuan rumah bersorak setelah kapten tim Paul Dawson menanduk bola hasil tendangan bebas Luke Duffy untuk membawa Macclesfield unggul 1-0.
Memasuki babak kedua, Palace mencoba mengubah jalannya laga dengan melakukan tiga pergantian pemain sekaligus. Namun, perubahan itu tak banyak berpengaruh. Macclesfield kembali menunjukkan ketenangan dan disiplin permainan, lalu menggandakan keunggulan pada menit ke-61 melalui sontekan kaki kanan Isaac Buckley-Ricketts yang mengecoh kiper Palace, Walter Benitez.
Palace baru mampu memperkecil ketertinggalan pada masa injury time. Tendangan bebas Yeremi Pino pada menit ke-90 sempat menyalakan harapan, tetapi gol tersebut datang terlalu terlambat untuk menghindarkan tim London itu dari kekalahan.
Peluit panjang wasit menjadi penanda salah satu malam paling bersejarah bagi Macclesfield. Ribuan pendukung tuan rumah berhamburan ke lapangan, merayakan kemenangan yang akan lama dikenang —sebuah pengingat bahwa di Piala FA, perbedaan kasta kerap luruh oleh keberanian dan keyakinan. (ihd)













