Stok Beras Tertinggi, Tekan Harga Dunia ke Level Terendah

Kamis, 15 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cadangan beras pemerintah melampaui kebutuhan. (Dok)

Cadangan beras pemerintah melampaui kebutuhan. (Dok)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Cadangan Beras Pemerintah (CBP) kini mencapai 3,7 juta ton, tertinggi sejak Perum Bulog didirikan pada 1969. Kementerian Pertanian menyebut lonjakan produksi beras dalam negeri menjadi pendorong utama peningkatan cadangan ini. Bersamaan dengan itu, Indonesia memutuskan menghentikan impor beras.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengemukakan, keputusan untuk tidak lagi mengimpor beras berdampak terhadap pasar global. Ia menyebut, harga beras dunia kini turun hingga ke level terendah.

“Dulu saat kita impor, harga beras dunia mencapai 460 dollar AS per ton. Sekarang, karena kita tidak lagi impor, harga turun menjadi 390 dollar AS per ton,” ujar Amran di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (14/5/2025). Ia menambahkan, penurunan harga ini juga membantu konsumen beras di berbagai negara.

Amran menyebut, stok CBP saat ini bukan hanya menjadi yang tertinggi, tetapi juga melampaui rekor swasembada beras tahun 1985. Ketika itu, stok CBP tercatat 3,006 juta ton dengan jumlah penduduk 166 juta jiwa. Kini, dengan jumlah penduduk mencapai 283 juta jiwa, Indonesia mampu mencatat stok beras 3,7 juta ton dan berpeluang mencapai 4 juta ton dalam waktu dekat.

“Ini sejarah baru. Alhamdulillah, kita sudah tidak impor dan stok kita justru tertinggi sepanjang sejarah,” kata Amran.

Menurut data Kementan dan Badan Pusat Statistik, Indonesia memang sempat mengimpor beras sebanyak 4,5 juta ton pada 2024 akibat produksi terganggu oleh El Nino. Sebelumnya, pada 2023, Indonesia mengimpor 2 juta ton beras. Namun, pada musim panen 2025, produksi beras dalam negeri kembali melonjak.

Proyeksi U.S. Department of Agriculture menyebut, produksi beras Indonesia pada 2024/2025 akan mencapai 34,6 juta ton, tertinggi di antara negara-negara ASEAN, termasuk Thailand dan Vietnam.

Perubahan peta produksi ini membawa pengaruh besar dalam perdagangan regional. Indonesia, yang sebelumnya bergantung pada impor, kini justru menjadi penentu dinamika harga beras global. (ihd)

Berita Terkait

Qari Indonesia Juara Tilawah Internasional, Akhiri Penantian Selama 13 Tahun
Sikapi Inflasi YoY 3,28 Persen, Mendagri Minta Pemda Optimalkan Anggaran BTP dan Operasi Pasar
SEB Mendagri dan Mentan Terbit: Daerah Wajib Sukseskan Program Swasembada Pangan Nasional
Digitalisasi Layanan Haji Dimulai dari Data Kependudukan, Ini Langkah Mendagri Tito
Tak Biarkan Warga Sendiri, TP PKK dan TP Posyandu Dampingi Korban Gempa NTT
Posyandu Ternyata Tak Cuma Timbang Balita, Ini 6 SPM yang Digarap di Manggarai Timur
Iklim Usaha Kondusif Dimulai dari Regulasi yang Selaras, Ini Langkah Kemendagri
Demi Layanan Jemaah Lebih Baik, Mendagri Ajak Pemda Bersinergi

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Qari Indonesia Juara Tilawah Internasional, Akhiri Penantian Selama 13 Tahun

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:03 WIB

Sikapi Inflasi YoY 3,28 Persen, Mendagri Minta Pemda Optimalkan Anggaran BTP dan Operasi Pasar

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:49 WIB

SEB Mendagri dan Mentan Terbit: Daerah Wajib Sukseskan Program Swasembada Pangan Nasional

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Digitalisasi Layanan Haji Dimulai dari Data Kependudukan, Ini Langkah Mendagri Tito

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Tak Biarkan Warga Sendiri, TP PKK dan TP Posyandu Dampingi Korban Gempa NTT

Berita Terbaru