Fokus pada Pemberdayaan Lokal, Wamendagri Tekankan Pentingnya Model Pembangunan Inklusif di Tanah Papua

Rabu, 4 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Bandung – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk menekankan pentingnya pendekatan geokultural, multiaktor, dan kodeterminatif dalam mewujudkan pembangunan Papua yang damai, bermartabat, dan berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan di Tanah Papua harus memperhatikan karakteristik sosial budaya, kondisi geografis, serta kebutuhan masyarakat agar kebijakan yang dihasilkan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata.

Hal tersebut disampaikan Ribka saat menghadiri Seminar Nasional Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVIII Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) bertema “Pendekatan Geokultural, Multiaktor, dan Kodeterminatif dalam Mewujudkan Pembangunan Papua yang Damai, Bermartabat, dan Berkelanjutan” di Gedung Seskoad, Bandung, Jawa Barat (Jabar), Selasa (3/11/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa perdamaian merupakan harapan utama masyarakat Papua. “Masyarakat Papua menginginkan ada perdamaian,” ujarnya.

Ribka menjelaskan, pendekatan geokultural menjadi penting karena Papua memiliki keragaman suku, bahasa, adat istiadat, dan struktur sosial yang perlu dipahami dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pemahaman terhadap karakteristik masyarakat setempat menjadi salah satu kunci agar kebijakan dan program pembangunan dapat diterima serta menjawab kebutuhan warga.

Selain keragaman sosial budaya, kata Ribka, kondisi geografis Papua juga membutuhkan pola pembangunan yang disesuaikan dengan karakteristik setiap wilayah. Daerah pegunungan, pesisir, kepulauan, perkotaan, hingga perbatasan memiliki tantangan berbeda, terutama dalam hal transportasi, konektivitas, distribusi logistik, dan akses pelayanan publik. Karena itu, kebijakan pembangunan tidak dapat diseragamkan tanpa mempertimbangkan kondisi wilayah masing-masing.

Ia menambahkan, pendekatan multiaktor perlu diwujudkan melalui keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah (Pemda), TNI-Polri, tokoh adat, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat. Setiap unsur perlu memiliki peran dan kontribusi yang saling melengkapi dalam mendukung pembangunan Papua.

“Kalau ini semua sudah terjadi, semua merasa bahwa sudah terwadahi, ada peran, ada kontribusi dari masing-masing sektor atau masing-masing stakeholders,” jelasnya.

Ribka juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi antara perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Aspirasi masyarakat yang telah dihimpun melalui proses perencanaan harus tetap menjadi acuan ketika program dilaksanakan. Dengan demikian, kebijakan yang telah disusun tidak berubah arah dan manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penguatan pembangunan Papua juga membutuhkan koordinasi yang efektif antara pemerintah pusat dan Pemda, termasuk dalam pelaksanaan kebijakan afirmasi dan penyelenggaraan otonomi khusus. Sinergi antarpemangku kepentingan diperlukan agar berbagai program pembangunan berjalan selaras dan tidak terhambat oleh ego sektoral.

Ribka menekankan bahwa kewenangan yang telah diberikan kepada Pemda perlu dioptimalkan melalui penguatan koordinasi dan kolaborasi. Menurutnya, sinergi menjadi salah satu landasan penting untuk mendorong perubahan dan mempercepat pembangunan di Papua.

“Bagaimana kita memberikan visi kepada daerah, kewenangannya sudah ada, kemudian bagaimana pemanfaatannya, semua kembali pada Pemda … Ini menjadi titik pertama untuk perubahan pembangunan,” tegasnya.

Ribka berharap pendekatan geokultural, multiaktor, dan kodeterminatif dapat menjadi landasan bersama dalam memperkuat pembangunan Papua. Dengan kebijakan yang sesuai dengan karakteristik wilayah serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, pembangunan di Tanah Papua diharapkan mampu mewujudkan kehidupan masyarakat yang damai, bermartabat, dan sejahtera.(lsi)

Sumber : Puspen Kemendagri

Berita Terkait

Kasatgas Tito Instruksikan Perbaikan Darurat Tanggul Pidie Jaya Demi Keamanan Warga
Wamendagri Bima Ajak Kepala Daerah Perkuat Visi & Pelayanan Publik
Perkuat Koordinasi Lapangan, Kasatgas Tito Pastikan Daerah Bencana Bebas Tetapkan Status Tanggap Darurat
Langkah Konkret Pengendalian Pangan: Pemda Didorong Perluas Kerja Sama Antardaerah dan Lancarkan Logistik
Kunci Efisiensi Birokrasi: Kemendagri Minta Seluruh Pemda Budayakan Inovasi Daerah Jelang IGA 2026
Pacu Potensi Lokal, Wamendagri Bima Arya Minta Pemda Sumbar Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi Berkeadilan
Wamendagri Ribka Haluk Apresiasi Pembentukan Satgas MBG 100 Persen di Maluku, Maluku Utara, dan Tanah Papua
Cegah Middle-Income Trap, Wamendagri Akhmad Wiyagus Wajibkan Pembinaan Kepemimpinan Pemuda Berbasis Daya Saing

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 00:57 WIB

Kasatgas Tito Instruksikan Perbaikan Darurat Tanggul Pidie Jaya Demi Keamanan Warga

Rabu, 4 November 2026 - 00:52 WIB

Wamendagri Bima Ajak Kepala Daerah Perkuat Visi & Pelayanan Publik

Rabu, 4 November 2026 - 00:46 WIB

Perkuat Koordinasi Lapangan, Kasatgas Tito Pastikan Daerah Bencana Bebas Tetapkan Status Tanggap Darurat

Rabu, 4 November 2026 - 00:40 WIB

Fokus pada Pemberdayaan Lokal, Wamendagri Tekankan Pentingnya Model Pembangunan Inklusif di Tanah Papua

Selasa, 3 November 2026 - 16:01 WIB

Langkah Konkret Pengendalian Pangan: Pemda Didorong Perluas Kerja Sama Antardaerah dan Lancarkan Logistik

Berita Terbaru