JENDELANUSANTARA.COM, Bagi warga Banten yang menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan di Jakarta, persoalan muncul bukan hanya sebatas penyakit yang diderita pasien. Biaya transportasi, lokasi tinggal, konsumsi, hingga kebutuhan pendamping kerap menjadi beban tambahan bagi pasien dan keluarganya.
Menjawab kebutuhan tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten sejak setahun lalu akhirnya mengoptimalkan sebagian Kantor Badan Penghubung menjadi Rumah Singgah yang berlokasi di Jalan Tebet Timur Raya Nomor 51, Jakarta Selatan. Fasilitas ini disediakan secara gratis bagi masyarakat Banten yang menjalani pengobatan di berbagai rumah sakit rujukan di Jakarta.
“Masyarakat yang datang berobat ke Jakarta sering kali harus kembali ke rumah sakit keesokan harinya atau beberapa hari kemudian. Rumah singgah ini hadir untuk meringankan beban mereka,” ujar Gubernur Banten Andra Soni.
Dalam satu tahun operasionalnya, Rumah Singgah telah melayani sedikitnya 146 pasien dan 146 pendamping yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Banten. Bahkan satu pasien bisa tinggal di rumah singgah berbulan-bulan, sudah ada yg 10 bulan tinggal di rumah singgah sehingga manfaat pelayanan yg diberikan rumah singgah kepada masyarakat Banten kurang lebih sudah 800 layanan. Selain itu juga rumah singgah melakukan pelayanan terhadap warga Baduy yang sedang berkunjung ke Jakarta. Sampai saat ini sudah sekitar 30 warga Baduy merasakan tinggal di rumah singgah.
Data penghuni rumah singgah menunjukkan sebagian besar pasien menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan nasional seperti RS Kanker Dharmais, RSCM, RS Jantung Harapan Kita, RSPAD Gatot Soebroto, RSUP Fatmawati, RS PON, dan sejumlah rumah sakit lainnya di Jakarta.
Mayoritas pasien merupakan penderita penyakit kronis dan penyakit katastropik seperti kanker payudara, kanker serviks, kanker nasofaring, tumor otak, penyakit jantung, gangguan saraf, hingga berbagai penyakit lain yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan dan kontrol rutin.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, rumah singgah menyediakan 18 tempat tidur pasien dan 18 tempat tidur pendamping, sehingga total tersedia 36 tempat tidur yang dapat digunakan secara gratis oleh masyarakat Banten selama menjalani pengobatan di Jakarta.
Rumah singgah yang dikelola oleh Badan Penghubung Daerah Provinsi Banten itu pun hampir tidak pernah sepi dari penghuni. Dalam kondisi normal, setiap hari terdapat sekitar 10 hingga 15 pasien dan pendamping yang memanfaatkan fasilitas tersebut.
Kepala Badan Penghubung Daerah Provinsi Banten, Ika Sri Erika mengatakan, mayoritas pasien berasal dari wilayah yang cukup jauh dari Jakarta, terutama Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang.
“Mereka umumnya berasal dari daerah yang cukup jauh. Jika harus bolak-balik dari daerah ke Jakarta tentu sangat melelahkan dan membutuhkan biaya yang besar,” ujarnya.
Selain menyediakan tempat tinggal yang nyaman, Rumah Singgah juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Fasilitas tersebut meliputi tempat tidur pasien dan pendamping, ruang istirahat, kursi roda, tabung oksigen, hingga layanan transportasi antar jemput menuju rumah sakit.
“Tersedia dua mobil operasional dan satu ambulans. Ambulans digunakan bagi pasien yang tidak bisa duduk, sementara mobil operasional digunakan untuk mengantar beberapa pasien sekaligus. Semua layanan diberikan secara gratis,” kata Ika.
Seluruh layanan dapat diberikan secara gratis kepada masyarakat Banten yang memanfaatkan fasilitas Rumah Singgah Pemprov Banten selama setahun ini. Mereka juga mendapatkan akses informasi kesehatan, pendampingan administrasi, hingga koordinasi donor darah apabila diperlukan.
Manfaat Rumah Singgah bagi masyarakat Banten ini diceritakan oleh beberapa pasien. Jabidi (41), yang bekerja sebagai pedagang sate keliling asal Cikupa, Kabupaten Tangerang, mengaku tertolong dengan adanya tempat tersebut. Sudah lebih dari dua tahun ia menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Sejak Oktober 2025, Jabidi memanfaatkan fasilitas rumah singgah setiap kali harus menjalani kontrol ke rumah sakit.
“Sekarang jauh lebih ringan. Ada tempat tinggal, makan juga disediakan,” katanya.
Manfaat saya juga dirasakan oleh Haris Sudianto (57), warga Cikande, Kabupaten Serang, yang mendampingi istrinya Asih Hartati (53) menjalani pengobatan kanker di RS Dharmais Jakarta. Sebelum ada Rumah Singgah, ia harus bolak-balik dari Cikande Serang ke Jakarta empat kali dalam seminggu. Dalam satu hari, ia menghabiskan biaya sekitar Rp500 ribu. Tapi sejak memanfaatkan fasilitas Rumah Singgah, ongkos tersebut ia alihkan untuk kebutuhan pengobatan.
“Di sini ada tempat tinggal, makan, dan antar jemput ke rumah sakit. Sangat membantu,” kata Haris.(ADV)














