JENDELANUSANTARA.COM, Banten – Sejumlah mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melakukan kunjungan lapangan ke Kedai Tepi Sawah sebagai bagian dari tugas perkuliahan. Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa mengamati langsung kawasan persawahan produktif sekaligus melakukan wawancara dengan petani setempat dengan tema perubahan iklim dan ketahanan pangan.
Kedatangan mahasiswa ini tidak hanya untuk keperluan akademik, tetapi juga sebagai bentuk pembelajaran lapangan mengenai kondisi pertanian di wilayah Cipocok Jaya, Kota Serang. Para mahasiswa mengaku tertarik dengan suasana persawahan yang masih produktif serta panorama alam di sekitar Kedai Tepi Sawah, termasuk pemandangan Gunung Karang yang tampak jelas meski berjarak cukup jauh.
Salah satu mahasiswa, Petani Silaban dari Silaturahmi Banten, mengatakan diskusi dengan petani membuka perspektif baru mengenai pentingnya menjaga lahan pertanian di tengah tekanan pembangunan.
Dalam dialog tersebut, Petani Silaban menegaskan bahwa sawah-sawah produktif harus dijaga dan dilestarikan, bukan dialihfungsikan menjadi kawasan perumahan. Menurutnya, lahan pertanian memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat.
“Kalau sawah-sawah produktif dijadikan perumahan, kita akan kehilangan sumber pangan. Ketahanan pangan itu bukan hanya soal menanam padi, tetapi juga umbi-umbian dan tanaman lainnya,” ujar Petani Silaban Senin, (1/6/2026).
Ia juga menambahkan bahwa bertani dapat dilakukan dengan cara sederhana tanpa ketergantungan pada bahan kimia. Menurutnya, limbah organik seperti rumput atau alang-alang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami. Selain itu, berbagai tanaman pangan seperti talas, kangkung, genjer, hingga pepaya dapat ditanam untuk kebutuhan harian, bahkan tanaman obat herbal untuk menjaga stamina.
“Kalau tidak punya lahan, bisa menanam di karung. Yang penting mau bergerak. Di pekarangan pun jangan dibiarkan tidur,” tambahnya.
Petani juga menyoroti bahwa satu rumpun talas atau sente dapat tumbuh dan bertahan dengan baik meski tanpa perawatan intensif, selama tetap mendapat perhatian secara berkala.
Para mahasiswa mencatat bahwa sistem pertanian sederhana tersebut tetap mampu mendukung kebutuhan pangan rumah tangga, terutama jika masyarakat mau memanfaatkan lahan sempit di sekitar rumah.
Di akhir kegiatan, para petani menyampaikan pesan agar masyarakat tidak meninggalkan sektor pertanian meskipun memiliki kesibukan lain. Menurut mereka, waktu kecil sekalipun dapat dimanfaatkan untuk menanam.
“Luangkan waktu lima menit untuk menanam. Jangan biarkan pekarangan menjadi lahan kosong,” pesan Petani Silaban.
Ia juga menilai bahwa program pemerintah dalam pembangunan perumahan bagi masyarakat memang penting, namun tidak boleh mengorbankan lahan sawah produktif yang menjadi penopang ketahanan pangan daerah.
(Yuyi Rohmatunisa)














