JENDELANUSANTARA.COM, BANTUL – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus mendorong pelaku UMKM jamu gendong agar “naik kelas” melalui penguatan nilai Islami dan literasi herbal.
Program ini menjadi bagian dari upaya nyata pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
“Kami ingin UMKM tidak hanya berkembang secara ekonomi, tapi juga berlandaskan nilai,” ujar penggagas program, Yayat Hidayat.
Program pengabdian masyarakat tersebut digagas oleh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab dan dilaksanakan di Desa Wisata Jamu Gendong Kiringan, Bantul.
Kegiatan bertajuk Pemberdayaan UMKM Jamu Gendong Melalui Pendekatan Nilai Islami dan Literasi Kesehatan ini disambut antusias para pelaku usaha tradisional.
“Pesertanya aktif, bahkan diskusi berjalan hidup karena mereka punya pengalaman langsung,” kata Yayat.
Menurutnya, kebutuhan peningkatan kapasitas UMKM tidak cukup hanya pada aspek produksi, tetapi juga harus menyentuh nilai dan pengetahuan kesehatan.
“Pelaku jamu gendong punya potensi besar, tapi perlu diperkuat dengan nilai kejujuran, kebersihan, dan orientasi keberkahan,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Nilai Islami ini penting sebagai fondasi usaha yang berkelanjutan.”
Selain itu, literasi herbal menjadi fokus penting dalam program ini. Yayat menekankan bahwa pemahaman bahan dan proses sangat menentukan kualitas produk.
“Literasi herbal mencakup pemilihan bahan, pengolahan, hingga keamanan konsumsi. Jadi jamu bukan sekadar tradisional, tapi juga memenuhi standar kesehatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, “Kalau kualitas terjaga, kepercayaan konsumen akan meningkat.”
Para peserta pun merasakan dampak langsung dari pelatihan tersebut. Salah satu peserta, Siti (45), mengaku mendapatkan wawasan baru.
“Selama ini kami membuat jamu dari kebiasaan turun-temurun. Sekarang jadi lebih paham soal kebersihan, takaran bahan, dan bagaimana usaha bisa lebih berkah,” ungkapnya.
“Ilmunya langsung bisa kami praktikkan,” imbuhnya.
Program ini diharapkan mampu mendorong UMKM jamu gendong berkembang lebih profesional tanpa meninggalkan kearifan lokal—“berdaya saing sekaligus tetap beridentitas,” tutup Yayat.
(waw)














