JENDELANUSANTARA.COM, Bogor — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam di Indonesia untuk mulai meninggalkan pola pikir reaktif. Menurutnya, sudah saatnya umat bergerak menuju pendekatan proaktif yang mengedepankan akal sehat dan sikap terbuka.
Pesan kuat ini menjadi inti dari Seminar Refleksi Pemikiran Menteri Agama bertajuk “Gagasan Islam Harmoni, Keadilan, dan Kemanusiaan” yang berlangsung di Bogor, Selasa (29/4/2026).
Menag dalam paparan menawarkan sudut pandang segar mengenai identitas Islam. Menag menjelaskan perbedaan antara Al-Islam sebagai nilai universal yang mencakup segala kebaikan, dengan Islam sebagai identitas agama secara formal.
“Semua yang tidak bertentangan dengan Islam, maka itu adalah Islam. Islam adalah agama yang terbuka, bukan agama yang menutup diri,” tegasnya di hadapan para peserta.
Menag juga mengingatkan bahwa peradaban Islam tidak lahir dari ruang hampa. Rasulullah SAW membangun risalahnya dengan merangkul hikmah dari peradaban yang sudah ada sebelumnya, lalu menyatukannya dengan nilai-nilai keislaman secara alami.
Salah satu gagasan yang paling memikat perhatian adalah konsep Kurikulum Cinta. Bagi Nasaruddin, ajaran Islam tentang hak asasi manusia serta sifat Maha Pengasih dan Penyayang Tuhan sebenarnya adalah cerminan dari nilai cinta yang ada di semua agama.
“Kurikulum cinta bukan monopoli satu agama. Ia adalah refleksi ajaran Tuhan yang hadir di setiap tradisi keagamaan,” ungkapnya. Gagasan ini pun dinilai menjadi jembatan yang sangat relevan untuk memperkuat dialog antarumat beragama di Indonesia.
Menag juga mendorong umat agar tidak sekadar beragama secara normatif atau sekadar “status”. Ia menekankan pentingnya transformasi menuju religius mindedness—sebuah kondisi di mana seseorang beragama dengan kesadaran penuh, kreatif, inovatif, dan merasa merdeka di mana pun berada.
“Agama seharusnya merangkul, bukan mengekang. Ketika umat mencapai religius mindedness, maka keharmonisan akan lahir dari sinergi positif di antara mereka,” imbuhnya.
Terakhir, Menag menitipkan pesan yang cukup menyentuh tentang peran generasi penerus. “Jangan pernah meremehkan anak-anak muda, Pemuda adalah masa depan agama ini, libatkan mereka,” pungkasnya penuh optimisme.
Seminar yang menjadi ruang diskusi strategis bagi arah pemikiran Islam di Indonesia ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Agama, jajaran pejabat Eselon I dan II, serta Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
Sumber : kemenag














