“Menjaga kesehatan ginjal selama bulan puasa itu dengan minum yang cukup. Pada saat sahur dan berbuka tidak boleh kita melewatkannya,” ujar Dina di Jakarta, Kamis, seperti dilansir Antara.
Ia merekomendasikan konsumsi air putih sekitar 2 liter per hari atau setara delapan gelas. Kebutuhan tersebut dapat dibagi saat berbuka, malam hari, hingga sahur guna mencegah dehidrasi yang berisiko membebani kerja ginjal.
Selain air putih, asupan cairan dapat diperoleh dari buah utuh maupun jus berserat. Menurut Dina, jus sebaiknya dikonsumsi bersama ampasnya agar kandungan serat memperlambat penyerapan gula dalam darah.
“Jus usahakan jangan hanya airnya saja. Kalau hanya airnya, itu sama saja dengan kita meminum gula,” katanya.
Ia menyarankan masyarakat membuat jus secara mandiri tanpa tambahan gula. Penggunaan pemanis alami seperti stevia dinilai lebih aman dibandingkan pemanis buatan, misalnya sakarin, yang dalam sejumlah penelitian disebut berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Dina juga mengingatkan agar tidak mudah tergiur klaim “tanpa gula tambahan” pada produk minuman kemasan. Menurut dia, minuman olahan tetap perlu dicermati kandungan gizinya karena belum tentu lebih sehat dibandingkan buah segar.
Pada waktu sahur, konsumsi minuman berkafein seperti kopi dan teh sebaiknya dibatasi. Kafein bersifat diuretik, yakni meningkatkan produksi dan pengeluaran urine, sehingga dapat memicu frekuensi buang air kecil lebih sering dan berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi saat berpuasa.
Di luar aspek cairan, pola makan seimbang tetap menjadi penopang utama kesehatan ginjal. Sayur dan buah yang kaya mineral serta serat dianjurkan untuk dikonsumsi. Sebaliknya, makanan tinggi gula, tepung, dan gorengan sebaiknya dibatasi.
Adapun konsumsi kurma saat berbuka tetap diperbolehkan dalam jumlah wajar. “Kalau kurma dimakan sampai tiga butir itu masih tidak ada masalah,” ujar Dina.
Dengan pengaturan cairan dan asupan gizi yang tepat, puasa seharian bukan hambatan untuk menjaga ginjal tetap sehat. Disiplin pada pola minum dan makan menjadi kunci agar tubuh tetap bugar hingga waktu berbuka tiba. (ihd)














